Kurs Pajak
16 - 22 April 2014
Rp
Negara
11.378,00
Amerika S.(USD)
10.677,12
Australia (AUD)
9.099,92
Brunei Darussalam (BND)
11,83
Burma (BUK)
10.396,75
Canada (CAD)
1.833,71
China (CNY)
2.108,24
Denmark (DKK)
15.740,33
EURO (EUR)
1.467,49
Hongkong (HKD)
189,23
India (INR)
19.047,91
Inggris (GBP)
111,6826
Jepang (JPY)
10,92
Korea (KRW)
40.422,05
Kuwait (KWD)
3.517,68
Malaysia (MYR)
1.912,96
Norwegia (NOK)
116,77
Pakistan (PKR)
255,38
Philipina (PHP)
3.033,91
Saudi A. (SAR)
9.882,93
Selandia B.(NZD)
9.098,91
Singapura (SGD)
87,12
Sri Lanka (LKR)
1.742,88
Swedia (SEK)
12.928,96
Swiss (CHF)
352,52
Thailand (THB)
 
 

Menu Pajak

 
 

Sindikasi

Support


infopajak_cs

 
Beban pembiayaan alat berat menjadi ringan
Ditulis oleh kontan.co.id   
Tuesday, 08 February 2011

JAKARTA. Perusahaan pembiayaan yang melayani sektor alat-alat berat lebih optimistis menghadapi gelombang bisnis di 2011. Soalnya mulai tahun ini, tidak ada lagi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas transaksi sewa guna usaha (leasing) dengan hak opsi dan transaksi penjualan dan penyewagunausahaan kembali (sale and leaseback).

Dengan demikian, perusahaan multifinance alat berat tidak perlu lagi menanggung beban pajak sebesar 10%.

PPN leasing tersebut berlaku sejak tahun 1994 silam. Sejatinya, sejak lama para pengusaha keberatan dengan kebijakan itu, karena multifinance di sektor lain, seperti anjak piutang, kartu kredit, dan pembiayaan konsumen tidak terkena pajak tersebut.

Pembebasan PPN tersebut melalui Surat Edaran Nomor 129 Tahun 2010 tentang perlakuan pajak nilai atas transaksi sewa guna usaha dengan hak opsi dan transaksi penjualan dan penyewagunausahaan kembali, yang terbit akhir November tahun lalu.

Intinya, surat itu menghilangkan kewajiban pembayaran PPN atas objek pembiayaan di transaksi leasing. PPN hanya akan ditarik dari pemasok yang menjual produk tersebut. "Ini menjadikan industri pembiayaan alat berat makin ramai," kata Gunawan, Direktur Indomobil Finance, Senin (7/2).

Selama ini pembiayaan alat berat mendominasi kegiatan leasing perusahaan multifinance. Walhasil, pembiayaan alat berat pun bakal memiliki ruang makin lebar. Penghapusan pajak otomatis menurunkan beban perusahaan.

Asal tahu saja, multifinance memasukan tagihan PPN itu ke dalam pokok pembiayaan. Tentu saja, semakin besar pokok pembiayaan, bunga semakin mekar. "Bila PPN sudah dihilangkan, beban pembiayaan nasabah makin ringan, multifinance bakal lebih ekspansif," kata Direktur Buana Finance Herman Lesmana.

Tak heran, bila industri multifinance alat berat berani mematok target pembiayaan lebih tinggi di tahun ini. Buana Finance misalnya, ingin meningkatkan pembiayaan dari Rp 1,3 triliun di 2010 menjadi Rp 2 triliun di 2011. PT Surya Artha Nusantara (SAN) Finance memasang target sebesar Rp 3,6 triliun, tumbuh 16% dibanding 2010.

Indomobil Finance juga akan memperbesar porsi pembiayaan alat berat. Tahun 2010, total pembiayaan sekitar Rp 2 triliun. Dari jumlah itu, sebanyak 35% berasal dari pembiayaan mobil dan alat berat. "Tahun ini, porsi pembiayaan alat berat dan mobil akan naik menjadi 50%," ujar Gunawan.(http://keuangan.kontan.co.id/v2/read/keuangan/58410/)


oleh Anaya Noora Pitaningtyas

Sumber : Kontan Online   
Tanggal: 08 Februari 2011

Terakhir kali diperbaharui ( Tuesday, 08 February 2011 )
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

Survey Pajak

Apakah kenaikan pajak PBB DKI sampai 140%, sudah tepat ?
 

Diskusi Pajak Terbaru