Kurs Pajak
27 Agustus 2014 - 02 September 2014
Rp
Negara
11.694,00
Amerika S.(USD)
10.879,77
Australia (AUD)
9.356,37
Brunei Darussalam (BND)
12,03
Burma (BUK)
10.678,32
Canada (CAD)
1.902,06
China (CNY)
2.079,86
Denmark (DKK)
15.506,38
EURO (EUR)
1.508,74
Hongkong (HKD)
192,92
India (INR)
19.393,04
Inggris (GBP)
112,7335
Jepang (JPY)
11,46
Korea (KRW)
41.181,56
Kuwait (KWD)
3.694,81
Malaysia (MYR)
1.895,06
Norwegia (NOK)
115,74
Pakistan (PKR)
267,02
Philipina (PHP)
3.117,91
Saudi A. (SAR)
9.813,57
Selandia B.(NZD)
9.357,27
Singapura (SGD)
89,80
Sri Lanka (LKR)
1.693,31
Swedia (SEK)
12.810,47
Swiss (CHF)
365,76
Thailand (THB)
 
 

Menu Pajak

 
 

Sindikasi

Support


infopajak_cs

 
Kasus Mafia Pajak Pengaruhi Penerimaan
Ditulis oleh suaramerdeka.com   
Tuesday, 11 January 2011

JAKARTA- Kasus mafia pajak yang melibatkan mantan pegawai pajak Gayus H Tambunan dan Bahasjim Assifie membuat target penerimaan pajak pada 2010 tidak tercapai.

Dirjen Pajak Kementerian Keuangan Mochammad Tjiptardjo mengakui, tidak tercapainya penerimaan pajak karena adanya cobaan bagi Ditjen Pajak setelah terkuaknya kasus-kasus pajak tersebut.

“Tahun 2010, bukan main ujian yang kita rasakan, dari kasus Gayus, Bahasjim,” ujarnya di Jakarta, Senin (10/1). Selain itu, lanjutnya, penerimaan pajak yang tidak mencapai target juga dikarenakan adanya potensi pajak yang belum tergarap.

Untuk itu, lanjut Tjiptardjo, pada tahun 2011 ini pihaknya akan meningkatkan penerimaan pajak dari orang pribadi. Apalagi mulai tahun ini, terdapat beberapa potensi kehilangan penerimaan, yakni pengalihan pungutan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dari pusat ke daerah dan penghapusan fiskal luar negeri. “Kami akan mengejar penerimaan pajak orang pribadi, ini masih rendah,” cetusnya.

Pajak Orang Kaya

Untuk itu, pada tahun ini, pihaknya akan membuka kantor pajak orang kaya dan melaksanakan 73 crash program. Menurut Tjiptardjo, walaupun penerimaan pajak pada tahun 2010 hanya mencapai 98,1%, namun secara nominal, jumlahnya mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2009.

“Dari keseluruhan bagus, jika dibandingkan 2009, tahun ini 97,4% tanpa migas, kalau dengan migas 98,1%. Bahkan jika dibandingkan tahun 2005 yang masih Rp 250 triliun, tahun ini sudah sekitar Rp 590 triliun tanpa migas dan sekitar Rp 649 triliun dengan migas. Jadi, tidak jelek-jelek amat,” paparnya.

Selain itu, tambahnya, tidak tercapainya penerimaan pajak tersebut disebabkan meningkatnya jumlah restitusi yang harus dibayarkan kepada eksportir dan beberapa kebijakan yang menghilangkan potensi penerimaan pajak.

“Karena perekonomian kita membaik, banyak ekspor, restitusi kita bayarkan,” ujar dia.
Tjiptardjo menambahkan faktor lain adalah adanya perubahan-perubahan kebijakan contohnya penghapusan fiskal luar negeri dan pembayaran PPh 21 (pajak penghasilan) sudah tidak ada lagi secara teknis.“Jadi masih kurang Rp 12 triliun,”hitungnya.

Setelah kasus mafia pajak mencuat, Tjiptardjo menyatakan pihaknya menyiapkan langkah-langkah perbaikan.“Saya selaku pimpinan pajak, banyak yang harus diperbaiki dengan pembenahan itu,” ujarnya.

Untuk menambah Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP), Tjiptardjo menyatakan pihaknya akan memperkuat bank data. Salah satunya, dengan menambah pasal 36A dalam UU Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) yang mewajibkan semua instansi memberikan data kepada Ditjen Pajak. Selain itu, pihaknya juga akan memperbaiki sistem IT Ditjen Pajak.

“Banyak langkah-langkah yang kita persiapkan, SDM kita perbaiki, yang salah-salah kita hukum, kita menyongsong tugas ke depan, Satu sisi kalau ada yang nakal, kita langsung tangani,” tandasnya.

Sumber : Suara Merdeka
Tanggal: 11 Januari 2011

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

Survey Pajak

Apakah kenaikan pajak PBB DKI sampai 140%, sudah tepat ?
 

Diskusi Pajak Terbaru