Kurs Pajak
16 - 22 April 2014
Rp
Negara
11.378,00
Amerika S.(USD)
10.677,12
Australia (AUD)
9.099,92
Brunei Darussalam (BND)
11,83
Burma (BUK)
10.396,75
Canada (CAD)
1.833,71
China (CNY)
2.108,24
Denmark (DKK)
15.740,33
EURO (EUR)
1.467,49
Hongkong (HKD)
189,23
India (INR)
19.047,91
Inggris (GBP)
111,6826
Jepang (JPY)
10,92
Korea (KRW)
40.422,05
Kuwait (KWD)
3.517,68
Malaysia (MYR)
1.912,96
Norwegia (NOK)
116,77
Pakistan (PKR)
255,38
Philipina (PHP)
3.033,91
Saudi A. (SAR)
9.882,93
Selandia B.(NZD)
9.098,91
Singapura (SGD)
87,12
Sri Lanka (LKR)
1.742,88
Swedia (SEK)
12.928,96
Swiss (CHF)
352,52
Thailand (THB)
 
 

Menu Pajak

 
 

Sindikasi

Support


infopajak_cs

 
Bahu–membahu Menipu Wajib Pajak
Ditulis oleh Harian Seputar Indonesia   
Tuesday, 23 March 2010

SURABAYA – Maksud David Sentono,40,seorang distributor oli di kawasan Margomulyo ini, ingin lebih mudah mengurus pembayaran pajak.

Karena itu, dia menggunakan jasa konsultan yang bersedia membayarkan kewajibannya pada negara tersebut. Namun, bukan urusan pajaknya beres, dia justru kena tipu. Bahkan, harus rugi hingga Rp934 juta. David adalah salah satu korban dari keculasan komplotan Fatchan,45,yang tinggal di Medayu Utara VII.Pria ini yang selama tiga tahun,yakni sepanjang 2007–2009 dipercaya PT Putra Mapan Margomulyo, perusahaan milik David, memberesi urusan pajaknya.

Selama kurun waktu itu, perusahaan David sudah memberi uang sebesar hampir semiliar. David baru sadar tertipu ketika dia hendak minta pemindahan pembukuan pajaknya ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Surabaya Wonocolo, pekan lalu. Dia terbelalak saat data-data pajak yang seharusnya sudah dia bayar dibuka. Selama tiga tahun menggunakan jasa Fatchan,pajak yang dia bayarkan tidak pernah sampai ke tujuan.

Hilang entah ke mana. David pun mencak-mencak dan lapor ke Polwiltabes Surabaya. ”Ternyata data yang diberikan tersangka Fatchan pada korban David palsu,” ujar Kasat Reskrim Polwiltabes Surabaya AKBP Anom Wibowo kemarin. Polisi langsung membekuk Fatchan di rumahnya. Ketika didudukkan di hadapan penyidik,Fatchan pun bernyanyi. Ihwal pembayaran pajak bermasalah ini bermula dari David Sentono.

Lantara tidak mau repot, dia menyewa jasa konsultan pajak bernama Agustri Junaedi. Agustri digaji Rp800.000 per bulan untuk memberesi semua urusan kewajiban David pada negara. Untuk mencarikan biro jasa yang mau membayarkan pajak, Agustri minta tolong seorang stafnya bernama Octa. Nah,Octa yang menemukan Fatchan, yang mengaku sebagai pemilik biro jasa pengurusan pembayaran pajak.

Untuk meyakinkan Octa dan Agustri,Fatchan menunjukkan dokumen validasi pajak dan Surat Setoran Pajak (SSP) yang terlihat asli,yang dikeluarkan oleh Bank Jatim.Belakangan baru diketahui bahwa dokumen tersebut 100% palsu. Setiap pajak yang dibayarkan David diberikan ke Agustri, dilanjutkan ke Octa, kemudian ke Fatchan. Di tangan Fatchan,duit mandek dan diolah sendiri.Dia membagi kepada enam orang lainnya anggota jaringan penipuan.

Soal memalsukan dokumen ini, Fatchan tidak melakukannya sendiri. Dia terlibat dalam sebuah jaringan panjang. Untuk mendapatkan SSP palsu, Fatchan menghubungi seseorang bernama M Mutarozikin, 33, asal Jalan Mutiara,Perum GKB Driyorejo,Gresik; kemudian diteruskan ke Gatot Budi Sambodo, 42,warga Jalan Dinoyo Langgar, Surabaya.

Dari Gatot, permintaan dilanjutkan ke Herlius Widhia Kembara, 26, Jalan Gunung Anyar, Surabaya; diteruskan ke Totok Suratman, 37, warga Jalan Kalidami, Surabaya; lanjut lagi ke M Soni, 35, warga Kendangsari XI,Surabaya; dan bermuara ke Siswanto,35,warga Taman Pondok Legi IV,Waru,Sidoarjo. Menurut catatan polisi,Siswanto bukan orang baru di dunia kejahatan seperti ini.

Dia pernah ditangkap Unit V Reskrim Polwiltabes Surabaya karena terlibat pembuatan faktur pajak fiktif pada 2005.Waktu itu Siswanto menjadi Pekerja Harian lepas (PHL) KPP Wonocolo. ”Jaringan Fatchan terputus. Dia hanya mengenal Mutarozikin, tapi tidak kenal Gatot, Herlius, Totok, Sony, atau Siwanto,” ungkapnya. Namun, setelah ditelusuri akhirnya polisi berhasil membongkar urut-urutan jaringan ini.

Satu persatu anggotanya dibekuk di rumah masing-masing.Mereka didudukkan sebagai tersangka di Polwiltabes Surabaya. Untuk menuntaskan kasus ini, polisi meminta keterangan dari Mirza Pahlevi,Kepala Bagian Pembayaran Pajak di KPP Surabaya Wonocolo, Moisul Lukman –anak buah Mirza yang bertugas di bagian penerimaan pajak –dan seorang staf Bank Jatim bernama Sri Bondan.

Nama terakhir ini yang memastikan bahwa SSP atau dokumen validasi atas nama Bank Jatim yang diserahkan Fatchan palsu. Bagi-bagi hasil kejahatan dalam jaringan ini juga sudah diatur rapi.Fatchan mendapat 10%, Mutarozikin 20%, Gatot 15%, Herlius 19%,Totok 6%, Sony 8%, dan Siswanto 25%. ”Kami terus mengembangkan kasus ini. Kami menduga, korban Fatchan bukan hanya satu. Kami masih berusaha membongkar data base siapa saja yang membayar pajak melalui Fatchan.

Siapa saja yang merasa pernah membayar pajak melalui Fatchan diharapkan segera melapor.Mereka mungkin juga korban penipuan,”papar Anom. Untuk menggampangkan penyelesaian kasus ini, polisi mengamankan barang bukti berupa 34 SSP,14 bukti penerimaan uang dari David ke Fatchan, dan 34 tanda bukti laporan pajak.

Ketujuh penjahat itu diancam pasal 378 KUHP tentang penipuan dengan ancaman hukuman lebih dari lima tahun penjara. Selain dokumen Bank Jatim, Siswanto si pembuat dokumen palsu ternyata juga memalsukan SSP dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). Saat ditanya wartawan di Polwiltabes Surabaya, kemarin, Fatchan dan Siswanto konsisten diam.

Sembari menutupi muka dengan baju tahanan berwarna merah, mereka mengangguk dan menggeleng ketika menjawab pertanyaan, meski kadang jawaban itu tidak pas dengan pertanyaan.Misalnya,”Berapa lama memalsukan SSP?” Siswanto pun menggeleng.


Taufik pramugianto

Sumber : Harian Seputar Indonesia
Tanggal: 22 Maret 2010

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

Survey Pajak

Apakah kenaikan pajak PBB DKI sampai 140%, sudah tepat ?
 

Diskusi Pajak Terbaru