Kurs Pajak
06 - 19 September 2010
Rp
Negara
9.019,50
Amerika S.(USD)
8.121,61
Australia (AUD)
6.673,08
Brunei Darussalam (BND)
1.402,48
Burma (BUK)
8.534,53
Canada (CAD)
1.324,82
China (CNY)
1.543,48
Denmark (DKK)
11.491,97
EURO (EUR)
1.159,79
Hongkong (HKD)
192,33
India (INR)
13.908,75
Inggris (GBP)
10,69136
Jepang (JPY)
7,58
Korea (KRW)
31.294,62
Kuwait (KWD)
2.875,73
Malaysia (MYR)
1.443,86
Norwegia (NOK)
105,48
Pakistan (PKR)
199,89
Philipina (PHP)
2.405,11
Saudi A. (SAR)
6.386,26
Selandia B.(NZD)
6.672,83
Singapura (SGD)
80,02
Sri Lanka (LKR)
1.228,30
Swedia (SEK)
8.866,33
Swiss (CHF)
288,95
Thailand (THB)
 
 

Sindikasi

Support


infopajak_cs

 
Presiden Terpilih Harus Naikkan Pajak
Ditulis oleh Harian Kompas   
Friday, 12 March 2010

Manila - Siapa pun presiden Filipina yang terpilih dalam pemilu tahun ini tidak akan bisa menghindarkan kenaikan pajak. Hal itu harus dilakukan guna mencegah krisis finansial seusai pemilu Mei mendatang.

Dari empat kandidat presiden unggulan, dua kandidat, yaitu Senator Benigno ”Noynoy” Aquino III dan mantan Presiden Joseph Estrada, telah menyatakan tidak akan memberlakukan pajak baru atau menaikkan besaran pajak.

Akan tetapi, pada bulan lalu, Noynoy mengatakan akan mempertimbangkan kenaikan pajak jika kesenjangan anggaran tidak segera berkurang dengan pengejaran terhadap pajak yang digelapkan.

”Pemerintah seperti pasien di unit perawatan intensif dan perlu menaikkan pajak sebagai resep untuk sembuh dengan cepat,” kata Jonathan Ravelas, ahli strategi pasar pada Banco de Oro Unibank.

Menteri Keuangan Filipina Margarito Teves mengatakan, pendapatan yang rendah akan membuat pemerintahan baru kesulitan membiayai pengeluaran lebih besar yang sangat diperlukan untuk memperbaiki infrastruktur dan pelayanan sosial yang lebih baik.

Filipina, penerbit obligasi di luar negeri terbesar di Asia Tenggara, kemungkinan akan mengalami defisit anggaran dua kali berturut-turut pada tahun ini. Kunci utama yang akan menentukan bagaimana reaksi pasar terhadap hasil pemilu akan bergantung pada apakah kandidat yang memenangi pemilu menangani situasi fiskal.

”Kandidat mana pun yang menjanjikan tidak ada pajak baru harus menelan kembali kata-kata mereka,” kata seorang ekonom bank lokal. Janji seperti itu, lanjut dia, tidak mungkin ditepati.

Dalam pidato dan platform kampanye yang telah disampaikan, Noynoy, yang merupakan kandidat unggulan teratas, menyatakan akan memburu para pengemplang pajak dan penyelundup besar. Dari perburuan itu, dia mengharapkan bisa mengumpulkan 3,3 miliar dollar AS.

Noynoy mengatakan juga akan meningkatkan efisiensi pajak pemerintah sebesar 2 persen dari level sekarang yang sekitar 13 persen. Kepada kantor berita Reuters bulan lalu, Noynoy mengatakan, dia mempertimbangkan kenaikan pajak hanya jika jelas bahwa defisit anggaran tidak bisa tertutupi oleh program perburuan pengemplang pajak.

Kandidat kuat kedua, Senator Manuel Villar, mengatakan, dia tidak bisa berjanji untuk tidak memberlakukan pajak baru jika terpilih sebagai presiden karena pemerintahan berikutnya akan mewarisi kas kosong. Namun, dia menyerukan untuk menutup kebocoran pajak dan membelanjakan dana publik secara bijaksana.

Estrada, urutan ketiga dalam jajak pendapat, juga berjanji tidak akan memberlakukan pajak baru ataupun menaikkan besaran pajak. Dia bahkan menyerukan untuk mengurangi pajak konsumsi kendati tidak ada penjelasan detail soal program fiskalnya.

Kandidat koalisi berkuasa, mantan Menteri Pertahanan Gilberto Teodoro, menyatakan akan menghindari pemberlakuan pajak baru. Akan tetapi, jika langkah itu diperlukan, dia memilih untuk menaikkan pajak konsumsi dari 12 persen saat ini menjadi 15 persen. (reuters/fro)

Sumber : Harian Kompas
Tanggal: 12 Maret 2010

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

Survey Pajak

Berapakah tarif PPN yang ideal ?
 

Diskusi Pajak Terbaru