Kurs Pajak
16 - 22 April 2014
Rp
Negara
11.378,00
Amerika S.(USD)
10.677,12
Australia (AUD)
9.099,92
Brunei Darussalam (BND)
11,83
Burma (BUK)
10.396,75
Canada (CAD)
1.833,71
China (CNY)
2.108,24
Denmark (DKK)
15.740,33
EURO (EUR)
1.467,49
Hongkong (HKD)
189,23
India (INR)
19.047,91
Inggris (GBP)
111,6826
Jepang (JPY)
10,92
Korea (KRW)
40.422,05
Kuwait (KWD)
3.517,68
Malaysia (MYR)
1.912,96
Norwegia (NOK)
116,77
Pakistan (PKR)
255,38
Philipina (PHP)
3.033,91
Saudi A. (SAR)
9.882,93
Selandia B.(NZD)
9.098,91
Singapura (SGD)
87,12
Sri Lanka (LKR)
1.742,88
Swedia (SEK)
12.928,96
Swiss (CHF)
352,52
Thailand (THB)
 
 

Menu Pajak

 
 

Sindikasi

Support


infopajak_cs

 
Penerimaan pajak 2010 diprediksi shortfall, Penurunan tarif PPh berpotensi kurangi penerimaan
Ditulis oleh Bisnis Indonesia   
Friday, 29 January 2010

JAKARTA: Realisasi penerimaan pajak tahun ini diperkirakan masih mengalami shortfall (penerimaan di bawah target APBN) akibat adanya potential loss dari penurunan tarif PPh badan dan implementasi UU PPN dan PPnBM yang baru.

"Potensi riil pajak yang dapat ditarik oleh Ditjen Pajak pada tahun ini adalah sebesar Rp593,4 triliun," ungkap Direktur Jenderal Pajak Mochamad Tjiptardjo dalam acara rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR kemarin.

Dalam APBN 2010 Ditjen Pajak diberi tugas untuk mengumpulkan penerimaan pajak sebesar Rp611 triliun di luar PPh migas. Tjiptardjo menjelaskan sebenarnya secara normatif total pertumbuhan penerimaan pajak 2010 diperkirakan sebesar 21,88% dari basis realisasi penerimaan 2009 sebesar Rp515,94 triliun, sehingga potensi penerimaan pajak 2010 sebenarnya adalah Rp628,8 triliun.

"Kalau pertumbuhan penerimaan pajaknya 21,88% dengan base line target penerimaan pajak 2009 sebesar Rp528 triliun, mestinya 2010 itu ada Rp628,8 triliun potensinya."

Perkiraan pertumbuhan penerimaan pajak sebesar 21,88% tersebut berasal dari kontribusi pertumbuhan ekonomi dan inflasi sebesar 10,78% dan pelaksanaan strategi intensifikasi dan ekstensifikasi pajak sebesar 11,10%.

Namun, lanjut Tjiptardjo, karena ada kebijakan penurunan tarif PPh badan pada tahun ini yakni dari 28% menjadi 25%, maka hal itu akan menghasilkan potential loss sebesar Rp30,4 triliun.

"Di tambah lagi potential loss dari implementasi amendemen UU PPN yang berlaku 1 April tahun ini sebesar Rp5 triliun. Jadi potential loss-nya sebesar Rp35,4 triliun," ujarnya.

Menurut dia, bila potensi riil pajak yang dapat direalisasikan pada tahun ini diperkirakan Rp628,8 triliun, dengan adanya potential loss Rp35,4 triliun tersebut mengakibatkan potensi riil penerimaan pajak yang bisa direalisasikan tahun ini hanya mencapai Rp593,4 triliun.

Penerimaan pajak 2005-2010 (Rp triliun)

 

2005

2006 2007 2008 2009 2010
Penerimaan perpajakan 347,0 409,2 491,0 658,7 652,0 742,7
a.Pajak dalam negeri 331,8 396,0 470,1 622,4 631,9 715,5
i.Pajak penghasilan 175,5 208,8 238,4 327,5 340,2 351,0
1.PPh migas 35,1 43,2 44,0 77,0 49,0 47,0
2.PPh non-migas 140,4 165,6 194,4 250,5 291,2 303,9
ii.PPN 101,3 123,0 154,5 209,6 203,1 269,5
iii.PBB 16,2 20,9 23,7 25,4 23,9 26,5
iv.BPHTB 3,4 3,2 6,0 5,6 7,0 7,4
v.Cukai 33,3 37,8 44,7 51,3 54,5 57,3
vi.Pajak lainnya 2,1 2,3 2,7 3,0 3,2 3,9
b.Pajak perdagangan Int. 15,2 13,2 20,9 36,3 20,0 27,2
i.Bea masuk 14,9 12,1 16,7 22,8 18,6 19,6
ii.Pajak/pungutan ekspor 0,3 1,1 4,2 13,6 1,4 7,6

Sumber: Depkeu

Direktur Kepatuhan, Potensi, dan Penerimaan Ditjen Pajak Sumihar Petrus Tambunan menambahkan perhitungan perihal perkiraan penerimaan pajak 2010 tersebut masih bersifat sementara sehingga belum bisa menjadi patokan.


"Ini masih perhitungan sementara dari Ditjen Pajak. Nanti akan dikoordinasikan dengan BKF [Badan Kebijakan Fiskal]," tambahnya.

Ditjen Pajak mencatat penerimaan pajak termasuk migas mengalami shortfall 2,01% atau terealisasi 97,99% dari target yang ditetapkan APBN-P 2009 sebesar Rp577 triliun.

Untuk realisasi penerimaan pajak (tanpa PPh migas) periode Januari-Desember 2009 mencapai Rp515,7 triliun atau tumbuh 4,38% dibandingkan dengan realisasi penerimaan periode sama 2008 sebesar Rp494,1 triliun.

Realisasi terendah

Pertumbuhan realisasi tersebut merupakan angka terendah sejak 5 tahun terakhir yang mencatatkan pertumbuhan rata-rata 18%-21%. Pada 2005 realisasi penerimaan pajak tumbuh 21,9%, 2006 tumbuh 19,6%, 2007 tumbuh 21,4%, 2008 tumbuh 29,6%, dan 2009 hanya tumbuh 4,38%.

Bila termasuk PPh migas, pertumbuhan realisasi penerimaan pajak periode Januari-Desember 2009 hanya sebesar Rp565,7 triliun atau tumbuh minus 0,93% dibandingkan dengan realisasi penerimaan periode sama 2008 sebesar Rp571,1 triliun.

Tjiptardjo mengatakan untuk pe-nerimaan dari jenis PPh pada 2009 memang masih terkena dampak krisis ekonomi global, di mana ada perlambatan ekspor dan impor sehingga realisasi penerimaannya di bawah PPN.

Jika dibandingkan dengan target APBN-P 2009, realisasi penerimaan pajak tidak termasuk PPh migas sepanjang 2009 tercatat mengalamai shortfall sebesar 2,39% atau hanya terealisasi 97,61% dari target Rp528 triliun.

Sementara itu realisasi penerimaan pajak termasuk migas tercatat mengalami shortfall sebesar 2,01% atau hanya terealisasi 97,99% dari target Rp577 triliun.

Secara terperinci, realisasi penerimaan pajak tersebut terdiri dari PPh nonmigas Rp267,53 triliun atau 91,88% dari rencana penerimaan 2009 sebesar Rp291 triliun, PPN dan PPnBM Rp214 triliun (105% target Rp203 triliun).

Untuk PBB mencapai Rp24 triliun atau 101% dari rencana 2009 sebesar Rp23 triliun, BPHTB Rp6,4 triliun (92% target Rp6,9 triliun), dan pajak lainnya Rp3,1 triliun (95% target Rp3,2 triliun). ( Alamat e-mail ini telah diblok oleh spam bots, Anda membutuhkan Javascript untuk melihatnya )

Oleh Achmad Aris
Bisnis Indonesia

Sumber : Bisnis Indonesia
Tanggal : 29 Januari 2010

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

Survey Pajak

Apakah kenaikan pajak PBB DKI sampai 140%, sudah tepat ?
 

Diskusi Pajak Terbaru