Kenaikan PPnBM Picu Penyelundupan Mobil
Ditulis oleh Investor Daily Indonesia   
Thursday, 04 September 2008
JAKARTA, Investor Daily
Rencana pemerintah menaikkan tarif maksimum pajak penjualan barang mewah (PPnBM) dari 75% menjadi 200% dikhawatirkan memicu penyelundupan mobil mewah ke Indonesia. Tingginya tarif pajak membuka peluang bagi pihak-pihak tertentu untuk menyelundupkan barang ke Indonesia.

“Saat tax tinggi, orang akan berpikir untuk menyelundupkan mobil. Situasi ini pernah terjadi beberapa tahun lalu,” ujar Wakil Direktur Pemasaran PT Mercedes Benz Indonesia (MBI) Yuniadi Hartono di Jakarta, Rabu (3/9).

Menurut Yuniadi, selain memicu penyelundupan, kebijakan ini dikhawatirkan menganggu aktivitas produksi di pabrik. Sebab, penjualan dipastikan terpangkas jika kebijakan ini direalisasikan.

Buntutnya, tutur dia, perusahaan harus mengkalkulasi ulang tenaga kerja yang dibutuhkan. Namun ia berharap tidak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) di bisnis otomotif.

Ia menambahkan, pemerintah harus menjelaskan kepada pebisnis mobil latar belakang dari kebijakan ini. Jika kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi populasi mobil, ia menilai, langkah ini tidak tepat. Sebab, total penjualan mobil premium hanya sekitar 3.400 unit pada tahun lalu, sementara pasar mobil pada 2007 mencapai 434.449 unit.

Untuk tahun ini, kata dia, pasar mobil premium yang dihuni enam merek yakni Mercedes Benz (Mercy), BMW, Lexus, Audi, Volvo, dan Jaguar diprediksi menembus 4.000 unit sedangkan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memprediksi pasar mobil berpeluang menembus 570 ribu unit.

“Bisa dibilang penurunan volume tidak terlalu signifikan. Berapa sih volume yang dapat dikurangi dari mobil premium? Jumlahnya sangat kecil,” terangnya.

Seperti diberitakan, dalam RUU PPnBM pemerintah berencana menaikkan tarif PPnBM dari 10-75% menjadi 10-200%. Pemerintah mengusulkan mobil mewah dengan kapasitas silinder di atas 3.000 cc dikenai tarif pajak maksimum.  

“Untuk mobil mewah misalnya bisa sampai 200%. Ini menyangkut unsur kemewahan dan keadilan,” kata Kepada Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu.

Pemerintah menginginkan adanya subsidi silang antara masyarakat berpendapatan rendah dengan yang tinggi. Tingginya tarif PPnBM untuk mobil-mobil mewah diharapkan dapat menutupi kebutuhan masyarakat bawah.

Adi menilai, dikereknya tarif PPnBM justru berpotensi mengurangi pendapatan pemerintah dari sektor pajak. Sebab, volume penjualan dipastikan turun.

Mercy, ujar Adi, akan terus berkoordinasi dengan Gaikindo untuk menyampaikan aspirasi. Namun ia menekankan pada dasarnya pihaknya mendukung kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Yang penting, kata dia, jelas arah dan tujuannya. (coy)


Sumber : Investor Daily Indonesia
Tanggal: 04 September 2008
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >