MI siapkan strategi hadapi tarif pajak
Ditulis oleh Kontan Online   
Wednesday, 18 January 2012

JAKARTA. Kenaikan tarif pajak atas penghasilan bunga obligasi menyurutkan pamor reksadana beraset dasar obligasi. Minat menempatkan uang di reksadana pendapatan tetap alias fixed income dan reksadana terproteksi diprediksi melandai begitu tarif pajak naik menjadi 15%, mulai tahun 2014.

Manajer Investasi (MI) mulai menyiapkan langkah khusus agar penerapan tarif pajak baru tersebut tidak sepenuhnya menjatuhkan prospek reksadana. Utamanya, prospek reksadana terproteksi.

BNI Asset Management misalnya, memiliki strategi proteksi enhancement. Tujuannya adalah menjaga return reksadana terproteksi agar tidak anjlok, sekaligus mencapai target indikatif.

Idhamshah Runizam, Direktur Utama BNI Asset Management, menuturkan, strategi proteksi enhancement ditempuh dengan cara menginvestasikan kembali hasil pembayaran kupon dari obligasi yang menjadi isi portofolio reksadana terproteksi.

BNI Asset Management memilih saham sebagai instrumen untuk re-investing. "Kami akan tawarkan ke investor untuk terproteksi enhancement, mau atau tidak? Kalau tidak mau, ya terpaksa akan kami cairkan. Yang penting, return terjaga," jelas Idhamshah, Senin (16/1).

Strategi Mandiri Manajemen Investasi tidak berbeda. Andreas M. Gunawidjaja, Direktur Mandiri Manajemen Investasi, membeberkan, Mandiri akan mengoptimalkan ruang pemutaran dana kelolaan reksadana terproteksi di instrumen non-obligasi. "Menurut aturan yang berlaku, portofolio reksadana terproteksi bisa diputar di aset non-obligasi maksimal 30%," papar Andreas.

Mandiri berniat memutar sebagian dana kelolaan produk reksadana terproteksi di aset yang menjanjikan imbal hasil tinggi, yakni saham. "Supaya target return indikatif yang diperoleh investor tetap tercapai meski ada kenaikan beban pajak," kata Andreas.

Saat ini, Mandiri tercatat sebagai pemimpin pasar reksadana terproteksi. Dari total dana kelolaan reksadananya yang mencapai Rp 22 triliun, hampir separuh berasal dari produk reksadana non-konvensional itu.

Bebas penalti

MI berjanji, penerapan tarif pajak baru kupon obligasi ini tidak akan mengurangi prospek imbal hasil reksadana terproteksi. "Indikasi return tetap seperti yang ditawarkan dalam prospektus, kendati tarif pajak baru telah berlaku," jelas Andreas.

Ia mencontohkan, untuk produk reksadana terproteksi yang menjanjikan return 8,2% hingga jatuh tempo, melewati tahun 2014, Mandiri tidak berniat merevisi target indikatif imbal hasilnya.

Bahana TCW Investment Management menempuh strategi berbeda. MI pelat merah ini akan memperbanyak obligasi korporasi sebagai underlying asset karena potensi imbal hasilnya lebih tinggi ketimbang obligasi negara. Imbasnya, return reksadana berbasis obligasi dapat dicetak lebih tinggi.

Strategi lain, membebaskan investor dari penalti. Edward P. Lubis, Direktur Utama Bahana TCW Investment Management, menambahkan, para investor reksadana terproteksi Bahana yang baru jatuh tempo setelah 2014, dibebaskan untuk mencairkan unit penyertaannya sebelum jatuh tempo, tanpa dibebani biaya penalti pencairan.

Seperti diketahui, reksadana terproteksi hanya bisa dijual setelah jangka waktu tertentu. Jika sebelum waktu yang ditentukan, investor harus membayar penalti yang lumayan besar. "Kami buka agar tidak membebani investor karena adanya perubahan peraturan," jelas Edward.

Sedangkan Mandiri tidak menempuh cara tersebut. Alasan MI itu, hampir semua produk reksadana terproteksi terbitan Mandiri memiliki fitur windows. "Investor bisa memanfaatkan waktu pencairan sebelum jatuh tempo yang biasanya dijadwalkan setiap satu-dua bulan sekali selama tenor produk," jelas Andreas.

Aturan tarif pajak kupon obligasi ini memang memaksa MI bekerja lebih keras memutar dana kelolaannya agar return reksadana masih sesuai dengan target. Mengutip data Bapepam-LK, nilai dana kelolaan reksadana terproteksi mencapai Rp 41,83 triliun. Itu nilai terbesar kedua setelah reksadana saham.

Sumber : Kontan Online
Tanggal: 18 Januari 2012

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >