Terdakwa penggelapan pajak sampaikan pleidoi
Ditulis oleh Kontan.co.id   
Friday, 13 January 2012

JAKARTA. Terdakwa kasus penggelapan pajak PT Asian Agri, Suwir Laut, Kamis (10/11), mengajukan berkas pembelaannya (Pledoi) kepada majelis hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dalam pleidoi setebal kurang lebih 50 halaman tersebut, Suwir Laut, melalui kuasa hukumnya mengatakan bahwa semua tuntutan yang diajukan terhadap dirinya tidaklah tepat.

Sebelumnya, Suwir dituntut dengan hukuman penjara selama tiga tahun oleh Jaksa Penuntut Umum, karena telah terbukti bersalah melanggar pasal 39 ayat 1 huruf c UU No 16/2000 tentang Pajak. Tax manager, PT Asian Agri tersebut dituding telah melakukan manipulasi data ketika melakukan pengisian Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT).

Dalam nota pembelaan yang dibacakan oleh tim kuasa hukumnya dikatakan, bahwa laporan pajak yang tertuang dalam Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) tersebut, sudah diisi dengan benar. Karena diisi berdasarkan Laporan Keuangan perusahaan yang telah diaudit. "Laporan keuangan tersebut sudah di audit dengan opini wajar tanpa pengecualian," kata salah seorang kuasa hukum Suwir, Yan Apol.

Pernyataan ini merupakan bantahan atas tudingan Jaksa Penuntut Umum, yang menuduhnya telah menyusun SPT tidak benar atau tidak lengkap untuk tahun pajak 2002 hingga 2005. Kuasa hukum Suwir Laut juga menganggap tuduhan jaksa tersebut tidak beralasan. Karena jaksa memeriksa laporan pajak PT Asia Agri hanya berdasarkan laporan BPKP.

Suwir juga menyatakan tidak ada kekurangan perhitungan dalam penyusunan SPT PT Asian Agri. "Tidak ada kekurangan perhitungan kewajiban pajak pada ke 14 perusahaan yang tergabung dalam Asian Agri Group (AAG)," ujar Yan.

Karena nilai kewajiban pajak ke-14 perusahaan Asian Agri dalam SPT, sama dengan nilai kewajiban pajak dalam laporan keuangan yang telah diaudit. Kalaupun ada perbedaan hitung, itu karena adanya perbedaan kebijakan pengenaan differed charges (biaya yang ditangguhkan).

Biaya ditangguhkan menurut prinsip akuntansi dapat dibagi, kemudian dibebankan pada setiap tahun berikutnya selama manfaatnya masih ada. Adapun kewajiban pajak dalam SPT sebesar Rp 1,13 triliun, sedangkan dalam laporan keuangan sebesar Rp 969,3 miliar.

Selain itu kubu Suwir juga menilai perkara ini seharusnya merupakan sengketa pajak biasa, yang dipaksakan menjadi perkara pidana. Sebab, sesuai dengan Undang-undang mengenai Ketentuan Umum Perpajakan (KUP), sistem perpajakan di Indonesia berdasarkan prinsip self assessment. Di mana pemerintah memberikan kepercayaan penuh kepada wajib pajak (WP) untuk menghitung dan membayar pajaknya.

Atas dasar semua itu, Suwir memohon kepada majelis hakim agar menerima semua eksepsi yang diajukan sebelumnya. Atau setidak-tidaknya majelis hakim membebaskan dirinya dari segala tuntutan.

Adapun sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum telah mendakwa tax manager Asian Agri, Suwir Laut dengan pasal 39 ayat 1 huruf c Undang-Undang No 16/2000 tentang Pajak. Terdakwa dituding telah menyampaikan SPT yang tidak benar atau tidak lengkap untuk tahun pajak 2002 hingga 2005.

Akibat kekeliruan ini menimbulkan kerugian negara Rp1,259 triliun. Pelanggaran terhadap pasal ini dikenai hukuman maksimal berupa kurungan penjara enam tahun dan denda empat kali dari nilai kerugian yang diderita negara.

Sementara itu, terkait pembelaan yang disampaikan oleh terdakwa SUwir, JPU enggan memberikan pendapatnya. "Nanti saja dalam tanggapan atas pembelaan terdakwa," ujar Salah satu JPU Roland Hutahaean.

Sumber : Kontan Online
Tanggal: 13 Januari 2012

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >